Pada ajang yang diadakan di
Auditorium Kampus C Universitas Airlangga itu, atlet-atlet pencak silat
Surabaya memang masih terlalu tangguh dibandingkan atlet-atlet daerah lainnya.
Setidaknya dari perolehan perolehan medali.
Kontingen Bondowoso yang berada di posisi runner-up “hanya” bisa
menghasilkan tiga emas dan satu perunggu. Sedangkan Bangkalan yang berada di
posisi ketiga mendapatkan dua emas, tiga perak, dan dua perunggu.
Meski menjadi juara umum,
Surabaya tidak mewakilkan satu pun pesilat terbaik. Pada sektor putra, pesilat
Kabupaten Blitar Moh Thofik menjadi pesilat terbaik. Sedangkan Yusi Eka Rahma
dari Kabupaten Bondowoso menjadi yang terbaik pada kategori putri. Delapan emas Surabaya didapatkan secara
merata. Empat emas dari kateori tanding, sedangkan empat emas dari Tunggal
Ganda Regu (TGR).
Febri Setiaji Ansori
meraih emas pada kelas D nomor tanding putra. Lalu ada Fatchur Rohman di
kelas A tanding. Pada sektor putri Dhinar Ijthida Eldyza meraih emas pada
kategori tanding putra. Sedangkan Silvia Saputri menang di kelas F
tanding. Sisanya disumbangkan Dufron
Faros Novian P (tunggal putra), lalu Ayu Kristanti (tunggal putri).
Pada ganda putra ada nama Harun Fikri dan Alan Andriono. Emas
terakhir Surabaya datang dari beregu putri atas nama Qiqi Rahmawati,
Almasitha Eki Sadita, dan Aulia Nurlayli Faj”riyani.
Manajer Kontingen Surabaya
Zakaria mengaku sangat bersyukur dengan hasil yang dicapai para pesilat pelajar
Surabaya. Padahal sebelum kejuaraan, Surabaya hanya menargetkan bisa
mendapatkan empat medali emas. “Ini tidak lepas dari sumbangsih semua pihak.
Terutama perguruan silat di Surabaya,” kata Zakaria. Ketua Harian IPSI Jatim Supratomo mengatakan bangga dengan atlet
pencak silat yang sudah berlaga pada ajang itu. Dia yakin bibit-bibit handal
dari Jatim akan bermunculan. “Kami akan terus melakukan pembibitan secara
berjenjang dan berkelanjutan. Sehingga nantinya bibit-bibit pesilat pelajar ini
akan moncer di kancah nasional dan internasional,” ujarnya. (nur/ruk)

0 komentar:
Posting Komentar